Kekeringan Meluas di Bojonggambir Tasikmalaya, Warga Kertanegla Andalkan Air Masjid

oleh -11 Dilihat
oleh
Mengantri Air Bersih
Warga mengantri air bersih di Masjid Jami Al Ihsan, Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya.

TASIKMALAYA, NUSANTARATIMES.ID – Matahari bahkan belum sepenuhnya muncul ketika langkah-langkah warga mulai memenuhi halaman Masjid Jami Al Ihsan, Desa Kertanegla, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya. Di tangan mereka tergenggam jerigen, ember, dan galon kosong. Tak ada yang datang untuk berdagang atau menghadiri acara. Mereka hanya ingin membawa pulang sesuatu yang bagi sebagian orang mudah didapat, tetapi bagi mereka kini menjadi barang paling berharga: air bersih.

Di pelataran masjid, puluhan wadah berbaris rapi membentuk antrean panjang. Sesekali terdengar suara keran dibuka, disusul gemericik air yang mengalir perlahan ke dalam jerigen. Bagi warga Dusun Cipari dan Dusun Cipatat, suara itu terdengar seperti kabar baik yang datang di tengah kemarau panjang.

Sudah hampir dua bulan mereka hidup dengan krisis air bersih. Sumur-sumur yang selama bertahun-tahun menjadi sumber kehidupan perlahan kehilangan debit, lalu benar-benar mengering. Kini, satu-satunya sumber air yang masih mengalir berasal dari mata air pegunungan yang ditampung di Masjid Jami Al Ihsan.

“Air sumur mulai kering sejak akhir April. Dulu menggali tiga meter saja sudah keluar air, sekarang sampai sepuluh meter pun tetap tidak ada. Akhirnya kami mengambil air ke masjid,” tutur Dedeh Rohayati, warga Dusun Cipari, sembari memindahkan jerigen yang telah penuh.

Rutinitas baru itu harus dijalani setiap pagi dan sore. Bukan karena mereka memiliki banyak waktu luang, melainkan karena kebutuhan air tidak pernah bisa ditunda. Air yang mereka bawa pulang harus cukup untuk memasak, minum, mandi, mencuci, hingga memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga.

“Di rumah sudah tidak ada air sama sekali. Sumber air dari gunung sekarang dialirkan ke masjid. Jadi kami antre setiap pagi dan sore,” ujar Yayah, warga lainnya.

Kemarau yang baru berlangsung sekitar dua bulan telah mengubah kehidupan ratusan keluarga di desa itu. Data Pemerintah Desa Kertanegla mencatat sekitar 600 hingga 700 kepala keluarga terdampak kekeringan, terutama di Dusun Cipari dan Dusun Cipatat.

Di tengah kondisi tersebut, Masjid Jami Al Ihsan menjalankan peran yang jauh melampaui fungsi utamanya sebagai tempat ibadah. Masjid menjadi pusat kehidupan masyarakat. Tempat warga bertemu, saling menyemangati, sekaligus memperoleh air yang sangat mereka butuhkan.

Namun keputusan membuka akses air untuk masyarakat bukan tanpa pertimbangan. Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) harus memastikan kebutuhan jamaah untuk berwudu tetap terpenuhi.

Ketua DKM Masjid Jami Al Ihsan, Uun Suhendar, mengatakan pengambilan air dihentikan 10 menit sebelum azan lima waktu agar air tetap tersedia bagi jamaah.

“Memang aktivitas mengambil air di masjid cukup mengganggu. Kadang air untuk wudu juga terbatas. Tapi bagaimana lagi, ini kebutuhan dasar masyarakat. Kami hanya meminta sepuluh menit sebelum azan pengambilan air dihentikan supaya jamaah bisa berwudu,” ujarnya.

Baginya, menutup akses air bukanlah pilihan. Sebab, jika masjid tidak membuka keran bagi warga, mereka harus mencari sumber air lain yang letaknya belasan kilometer dari desa.

“Air adalah kebutuhan dasar. Selama masih bisa membantu masyarakat, kami akan terus mengizinkan. Insya Allah aktivitas ibadah tetap berjalan dengan baik,” katanya.

Sementara itu, Kepala Desa Kertanegla, Bunyamin, mengakui wilayahnya hampir setiap tahun menjadi langganan kekeringan ketika musim kemarau tiba. Namun tahun ini dampaknya kembali dirasakan cukup berat.

“Ada dua dusun yang mengalami krisis air bersih, yakni Cipari dan Cipatat, dengan sekitar 600 kepala keluarga terdampak. Sumber air yang masih tersedia hanya dialirkan ke masjid sehingga warga harus mengantre dan pengambilan air dibatasi,” jelasnya.

Agar seluruh warga mendapatkan bagian yang sama, setiap keluarga hanya diperbolehkan membawa pulang dua hingga tiga jerigen air setiap hari.

Pemerintah desa telah mengajukan permohonan bantuan distribusi air bersih kepada Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya melalui BPBD. Namun hingga akhir Juni, bantuan tersebut belum juga tiba.

Meski demikian, Bunyamin menilai distribusi air bersih hanya menjadi solusi sementara. Warga membutuhkan langkah yang lebih permanen agar tidak terus dihantui krisis yang sama setiap musim kemarau.

“Kami berharap ada pembangunan sumur bor. Itu yang paling dibutuhkan masyarakat agar persoalan air bersih tidak terus berulang setiap tahun,” ujarnya.

Di Desa Kertanegla, kemarau bukan hanya tentang tanah yang retak atau sawah yang mengering. Kemarau mengajarkan bahwa setetes air bisa menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Dan selama hujan belum membasahi perbukitan Bojonggambir, halaman Masjid Jami Al Ihsan akan tetap dipenuhi antrean jerigen. Di sanalah warga datang membawa harapan, lalu pulang membawa air yang menjadi penyangga kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.