Anggota DPR RI Ahmad Doli Temukan Kejanggalan dalam Penanganan Kasus MHAQ

oleh -11 Dilihat
oleh
Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Ahmad Doli Kurnia.

TASIKMALAYA, NUSANTARATIMES.ID – Wakil Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR RI Ahmad Doli Kurnia Tandjung menemukan sejumlah informasi yang belum sinkron dalam penanganan kasus dugaan perundungan yang menimpa MHAQ (7), siswa SDN 1 Kebondalem, Kabupaten Pemalang.

Doli mendatangi SDN 1 Kebondalem, Rabu (7/10/2026), untuk mencocokkan informasi mengenai peristiwa yang berujung pada meninggalnya MHAQ. Ia mengecek ruang kelas korban, sejumlah lokasi yang berkaitan dengan kejadian, serta ruang guru.

Selain itu, Doli meminta penjelasan dari pihak sekolah, Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Pemalang, serta Dinas Sosial Pemalang.

Dari hasil penelusuran tersebut, Doli menyebut terdapat beberapa perbedaan keterangan, mulai dari jumlah anak yang diduga terlibat, keberadaan rekaman CCTV, hingga lokasi kejadian.

“Memang ada informasi-informasi yang masih kurang sinkron. Misalnya jumlah orang atau pelaku yang diduga terlibat. Dari Pemda informasinya dua orang, sementara keluarga menyebut tiga orang,” kata Doli.

Menurut keterangan pihak sekolah, terdapat dua anak yang sejauh ini mengakui keterlibatan dalam kasus tersebut.

Doli menilai perbedaan informasi itu harus segera ditelusuri agar proses pengusutan kasus tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

“Ini yang harus kita telusuri. Jangan sampai ada informasi yang berbeda-beda,” ujarnya.

Doli juga menyoroti keberadaan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di SDN 1 Kebondalem.

Berdasarkan penjelasan kepala sekolah, TPPK di sekolah tersebut baru dibentuk setelah kasus MHAQ terjadi. Padahal, keberadaan TPPK merupakan bagian dari upaya pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan satuan pendidikan.

“Kalau berdasarkan aturan, sekolah ini belum memiliki TPPK. Padahal, itu merupakan amanat aturan. Tadi kepala sekolah mengakui, tim tersebut baru dibentuk setelah kejadian,” ungkapnya.

Menurut Doli, kondisi tersebut harus menjadi bahan evaluasi serius agar sistem pencegahan kekerasan di sekolah berjalan sebagaimana mestinya.

Persoalan lain yang menjadi perhatian Doli adalah keberadaan rekaman CCTV yang disebut berkaitan dengan kasus tersebut.

Ia mengaku mendapatkan keterangan berbeda antara pihak sekolah, kepolisian, dan keluarga korban.

“Pihak sekolah mengatakan CCTV-nya rusak. Tapi dari pihak Polres dan keluarga mengatakan ada rekamannya, hanya blur,” katanya.

Doli mempertanyakan apakah rekaman CCTV yang disebut buram tersebut sudah dilihat dan diperiksa secara bersama-sama oleh pihak terkait.

Menurutnya, persoalan itu perlu diperjelas karena rekaman CCTV dapat menjadi salah satu informasi penting dalam mengungkap rangkaian kejadian.

Perbedaan keterangan juga ditemukan terkait lokasi kejadian. Ada informasi yang menyebut peristiwa berlangsung di depan kamar mandi, sementara keterangan lainnya menyebut lokasi kejadian berada di aula.

“Ini juga harus kita telusuri. Jangan sampai ada informasi yang berbeda-beda,” tegas Doli.

Doli meminta kasus yang menimpa MHAQ diusut secara menyeluruh, terbuka, dan berdasarkan fakta. Ia juga telah menyampaikan hal tersebut kepada kepolisian.

“Kasus ini harus diselesaikan seterang-terangnya, seterbuka-terbukanya. Jangan ada yang ditutupi. Apa yang diketahui sampaikan, yang tidak tahu bilang tidak tahu,” tegasnya.

Doli menilai keluarga korban berhak mendapatkan kepastian hukum dan keadilan atas meninggalnya MHAQ.

Namun, ia mengingatkan proses hukum tetap harus memperhatikan posisi anak-anak yang diduga terlibat. Penanganan perkara, kata dia, tidak boleh mengabaikan masa depan anak.

“Walaupun saat ini mereka diduga sebagai pelaku, anak-anak tersebut juga harus tetap dipikirkan. Bagaimanapun, masa depan mereka harus kita pikirkan,” ujarnya.

Doli juga menyoroti hasil autopsi MHAQ yang hingga Rabu (7/10/2026) belum diterima keluarga korban.

Ia mengaku telah menanyakan perkembangan hasil autopsi kepada keluarga. Berdasarkan informasi yang diterimanya, proses pemeriksaan disebut membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

“Tadi malam saya tanya keluarga korban, apakah hasil autopsinya sudah ada atau belum. Katanya, prosesnya satu minggu dan jatuhnya hari ini. Setelah ini saya mau ke rumah sakit untuk mengecek,” katanya.

Doli menegaskan kematian MHAQ harus menjadi perhatian serius dan tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.

Menurutnya, kasus tersebut harus menjadi momentum untuk memperkuat perlindungan anak serta sistem pencegahan kekerasan di lingkungan sekolah.

“Jangan sampai ada normalisasi, seolah masalah ini biasa atau tidak serius. Ini masalah serius. Kita jadikan hikmah dan pelajaran serta momentum untuk saling terbuka,” tegasnya.

Ia menambahkan, pembangunan anak tidak cukup hanya melalui pendidikan akademik, kesehatan, dan pemenuhan gizi. Pembentukan karakter dan akhlak juga harus menjadi perhatian.

“Percuma otaknya cerdas, badannya sehat, gizinya bagus, tetapi mentalnya rusak. Kita ingin anak-anak Indonesia ke depan berilmu tinggi, sehat, gizinya baik, sekaligus berakhlak dan berkarakter,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.