Kelas Jauh SDN Kubangsari, Taraju Tasikmalaya Belajar di Rumah Pangung Bekas

oleh -8 Dilihat
oleh
Puluhan siswa SDN Kubangsari di Kampung Manglid, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya belajar berdesakan di bangunan bekas rumah panggung yang bocor saat hujan.

TASIKMALAYA, NUSANTARATIMES.ID – Di balik perbukitan Kampung Manglid, Dusun Mekarjaya, Desa Kertaraharja, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, puluhan anak tetap berjuang menggapai cita-cita meski harus belajar dalam kondisi yang jauh dari kata layak.

Ruang belajar mereka merupakan bangunan bekas rumah panggung berukuran sekitar 5 x 4 meter yang kini telah lapuk dimakan usia.

Di ruangan sederhana itu, sebanyak 25 siswa yang terdiri atas sembilan murid kelas 1 dan 16 murid kelas 2 harus mengikuti kegiatan belajar mengajar secara bersamaan tanpa sekat pemisah. Saat hujan turun, proses pembelajaran kerap terganggu karena air menetes dari atap yang bocor.

Anak-anak terpaksa berpindah tempat untuk menghindari rembesan air sambil tetap mengikuti pelajaran.

Kondisi bangunan pun semakin memprihatinkan. Dinding bilik bambu mulai rapuh, lantai papan banyak yang lapuk, sementara atap tidak lagi mampu menahan derasnya hujan. Situasi tersebut dinilai tidak lagi memberikan rasa aman dan nyaman bagi para siswa maupun tenaga pendidik.

Guru kelas jauh SDN Kubangsari, Epi, mengaku prihatin dengan kondisi yang harus dihadapi para siswanya setiap hari. Selama tiga tahun mengajar di lokasi tersebut, ia berharap pemerintah segera membangun ruang kelas permanen agar kegiatan belajar berlangsung lebih layak.

“Kondisinya memang sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak. Kalau hujan bocor, anak-anak belajar berdesakan tanpa sekat. Saya sangat berharap tempat ini bisa segera dibangunkan dua ruang kelas permanen,” ujarnya.

Keterbatasan tidak hanya terjadi pada sarana belajar, tetapi juga jumlah tenaga pendidik. Kelas jauh SDN Kubangsari saat ini hanya dilayani oleh dua guru, yakni Epi yang masih berstatus guru sukarelawan (Sukwan) dan seorang guru Pendidikan Agama Islam (PAI).

Meski demikian, proses belajar mengajar tetap berlangsung setiap hari. Setelah lulus kelas 2, para siswa harus melanjutkan pendidikan ke sekolah induk SDN Kubangsari dengan berjalan kaki sejauh sekitar dua kilometer.

Dibangun karena Sulitnya Akses Pendidikan
Keberadaan kelas jauh SDN Kubangsari berawal dari sulitnya akses pendidikan di Kampung Manglid sekitar satu dekade lalu. Saat itu, anak-anak harus berjalan kaki sekitar tiga kilometer melewati perbukitan, persawahan, lembah hingga menyeberangi sungai untuk mencapai sekolah induk.

Medan yang berat membuat banyak orang tua enggan menyekolahkan anaknya. Bahkan, kondisi tersebut menyebabkan masih adanya warga yang tidak mampu membaca dan menulis akibat minimnya akses pendidikan.

Melihat situasi itu, pemerintah desa bersama masyarakat berinisiatif membangun kelas jauh sekitar tahun 2017 melalui semangat gotong royong.

Kepala Desa Kertaraharja, Agus, menjelaskan bahwa bangunan sekolah yang digunakan saat ini berasal dari rumah panggung bekas milik warga yang dibeli menggunakan dana kas desa dan swadaya masyarakat.

“Dulu tempat ini dibangun dengan segala keterbatasan. Anggaran tanahnya dari kas desa dan rereongan warga. Karena dana terbatas, kami membeli rumah panggung bekas milik warga, kemudian dibongkar dan dirakit kembali menjadi ruang kelas,” katanya.

Janji Pembangunan Belum Terealisasi
Seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan terus mengalami kerusakan. Masyarakat sebenarnya sempat memiliki harapan ketika Bupati Tasikmalaya saat itu, Uu Ruzhanul Ulum, menjanjikan pembangunan gedung sekolah permanen apabila lahan telah tersedia.

Pemerintah desa bersama masyarakat kemudian menyediakan lahan secara swadaya. Namun hingga kini, meski telah terjadi beberapa kali pergantian kepemimpinan daerah, pembangunan ruang kelas permanen belum juga terealisasi.

“Lahan sudah kami sediakan secara swadaya, tetapi sampai berganti tiga bupati, janji tersebut belum juga terealisasi. Pemerintah desa juga tidak bisa menggunakan Dana Desa untuk membangun sekolah karena terbentur regulasi,” tegas Agus.

Di tengah pesatnya pembangunan pendidikan dan pemanfaatan teknologi di berbagai sekolah, puluhan siswa di Kampung Manglid masih harus bertahan belajar di ruang kelas yang sempit, rapuh, dan bocor setiap musim hujan.

Masyarakat tidak menuntut fasilitas mewah. Mereka hanya berharap pemerintah segera menghadirkan ruang belajar yang aman, nyaman, dan layak agar anak-anak di pelosok Kabupaten Tasikmalaya memperoleh hak pendidikan yang sama seperti siswa di wilayah lainnya.

Kondisi Kelas Jauh SDN Kubangsari menjadi gambaran bahwa pemerataan pendidikan masih menyisakan pekerjaan rumah besar. Di balik semangat anak-anak mengejar cita-cita, tersimpan harapan agar janji pembangunan sekolah permanen tidak lagi sekadar menjadi wacana, melainkan segera diwujudkan menjadi kenyataan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.